Senin, Januari 7

Miss u so much Amak (part 2)

Perjalanan ke Padang menjadi sangat lama dan sulit dari yang aku kira sebelumnya. Biasanya perjalanan ke Padang hanya menempuh waktu 3 jam dari Maninjau. Tapi dikarenakan ada longsor di silaiang, kendaraan menjadi macet total dan banyak yang berputar haluan melewati Solok. Namun aku dan suami tetap melewati jalan biasa. Kami menunggu sampai giliran bisa melewati batu besar yang terjun kejalan. Ternyata kami menemui kesulitan baru, bensin motor tinggal sedikit sedangkan SPBU diserbu semua orang. Akibatnya antrian panjang disemua SPBU membuat kami tidak bisa mnegisi bahan bakar. Pasrah sampai dimana bisa berjalan motor, aku dan suami tetap yakin akan sampai ke Padang. Ajaibnya kami selamat dan bensin cukup sampai kerumah nenekku. Setelah makan, Ai sepupu suami yang juga temanku datang kerumah nenek dengan muka cemas. Dia minta foto ibu mertuaku yang ada di album pernikahanku. Perasaan tidak enak langsung menyelimutiku. Ada apa gerangan sampai Ai meminta foto itu. Suamiku langsung pergi menuju rumah sakit M Jamil bersama Ai dan om Adek untuk mencari amak. Aku disuruh menunggu dirumah karena fisikku yang masih lemah dan kandunganku yang masih muda. Sambil terus menerima kabar dari suami melalui sms, aku juga menonton berita di televisi. Sungguh terkejut disaat melihat berita bahwa hotel tempat amak menginap runtuh karena gempa. Dan dikabarkan banyak korban jiwa disana. Sampai saat itu evakuasi masih terus dilakukan. Aku terus berdoa agar amak masih selamat. Esok paginya aku bersikeras datang ke hotel itu ditemanai beberapa om dan tanteku. Aku juga tidak bisa menghubungi suami, karena baterai hp suamiku habis. Listrik di Padang juga masih mati total saat itu. Untung dirumah nenek ada genset dan persediaan air masih bisa diambil dari air sumur bor. Setibanya di hotel Ambacang, aku kaget melihat keadaan hotel itu. Aku juga melihat evakuasi korban yang terhimpit di reruntuhan hotel itu. Aku masih berharap amak selamat. Beruntung aku bertemu suamiku yang saat itu jalan kaki menuju hotel Ambacang dari rumah sakit M Jamil. Bensin motor kami sudah habis total jadi suami hanya bisa jalan kaki. Sementara itu om dan tanteku pulang kembali kerumah nenek. Aku dan suami memutuskan untuk membeli bensin eceran dan menuju rumah sakit. Disana aku dan suami mencari amak. Kami juga melihat mayat yang sudah tiba di rs. Tapi tidak ada satupun yang dikenali sebagai amak. Aku dan suami akhirnya mencari ke rumah sakit lain. Tapi hasilnya nihil, amak belum bisa juga ditemukan. Sore harinya Mak Lit, Bang Febi dan Nandes datang kerumah sakit M Jamil dari Maninjau. Mereka juga mencari amak. Tapi karena sampai malam belum bisa juga ditemukan, Mak Lit dan Nandes pulang ke Maninjau. Sedangkan Bang Febi tetap di Padang. Sempat terjadi kesalahpahaman dengan keluarga lain saat salah satu tante suamiku melihat mayat yang dikira amak. Tapi kami tetap tidak bisa menemukan amak. Sampai akhirnya hari keempat setelah kejadian, dan mayat-mayat itu telah dipindahkan ke kamar mayat, bang Febi berinisiatif meilhat barang yang dikenakan mayat. Barang tersebut disimpan oleh polisi guna penyelidikan. Ternyata Bang Febi mengenali jam tangan dan anting amak. Kami semua kaget dan menangis. Ternyata mayat yang pernah Bang Febi, suamiku dan Nandes lihat adalah amak. Pecah semua isak tangis keluarga besar kami yang menunggu dirumah sakit. Amak ternyata telah tiada. Sungguh hancur hatiku melihat suami menangis sambil menelepon adik yang berada dikampung mengabarkan amak telah tiada....

Rabu, Desember 12

Amak ....i miss u s much (Part 1)

Kenapa aku tulis judul ini, karena peristiwa ini sungguh menyakitkan ditengah awal pernikahanku dan kenyataan bahwa aku hamil sangat diharapkan amak. Amak adalah ibu mertuaku. Walau baru sebentar mengenal beliau, aku bahagia pernah bersama beliau yang kusayang. Ibu dari suamiku. Dan nenek dari anakku nanti. Masih ingat dalam benakku, peristiwa itu dimulai tanggal 30 September 2012. Sekitar pukul 17.15 gempa kuat terjadi di Padang. Waktu itu aku dan suami berada di rumah, Lubuk Sikaping. Guncangan begitu keras, sehingga kami yang waktu itu menerima tamu langsung keluar rumah. Kakiku lemas sekali, sehingga aku langsung duduk ditanah. Kami sibuk menerka dimana pusat gempa ini terjadi. Lampu langsung mati, sehingga kami tidak bisa melihat berita di televisi. Sinyal HP pun hilang. Aku dan suami mencari wartel terdekat, tapi nihil karena wartel disana tutup semua akibat gempa. Setengah jam kemudian, kami mendengar kabar dari tetangga bahwa anaknya yang kuliah di UNP tertimpa reruntuhan gedung. Panik kurasakan karena keluarga besarku berada di PAdang. Dari tetanggaku itulah diketahui bahwa kerusakan di Padang parah. Banyak korban jiwa. Ya Allah, aku mohon lindungilah semua anggota keluargaku disana. Aku sibuk menelepon dan sms ibu/adikku. Tapi sinyal HP yang hilang menghambat pesan itu sampai. Begitu juga dengan suami, sibuk menghubungi keluarga yang di Maninjau. Sewaktu menelepon adik suami yang di Maninjau ternyata bisa. Dari sana kami dapat kabar bahwa rumah orang tua suami sudah rusak. Ya Allah... tambah kacau pikiran ini. Aku takut membayangkan kejadiannya bisa separah ini. Aku juga belum bisa menghubungi keluargaku yang di Padang. Ternyata pusat gempa di Padang. Aku tidak bisa memastikan berapa kekuatan gempa itu, karena kabar masih simpang siur kami dengar. Akhirnya aku dan suami sepakat berangkat ke Maninjau besok subuh. Dengan kandungan yang masih muda, aku kuatkan diriku untuk berangkat naik motor dengan suamiku. Karena kami tahu, jika mengggunakan travel hanya akan memperlambat kamin tiba ditujuan. Macet dijalan pasti terjadi karena semua orang menuju ke Padang untuk mencari tahu kabar sanak saudaranya. Begitu juga dengan aku dan suami yang akan langsung kepadang sesudah kami dari maninjau nantinya. Aku terus berdoa agar Allah menguatkan janin yang ada dikandunganku selama diperjalanan saat itu. Setibanya kami di Maninjau, mataku langsung tertuju kedapur yang sudah rata dengan tanah. Anehnya hanya dapur yang runtuh. Sedangkan rumah orang tua suami hanya miring dengan lantai yang sudah retak-retak karena gempa. Pikiranku langsung tertuju kepada Amak, karena kata adik suami, amak ada di Padang mengikuti seminar yang diadakan di hotel Ambacang. Dan kabarnya hotel itu juga runtuh. DEG!!!!! Amak... Ya Allah. lindungilah beliau. Hanya itu yang kuucapkan terus menerus dalam diamku. Setelah membantu mengeluarkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan di rumah ortu suami, aku dan suami langsung menuju ke Padang saat itu juga!! Anehnya aku tidak menemukan dimana Ayah. Biasanya Ayah akan langsung menghampiri kami jika kami ke Maninjau. Tapi kali ini aku tidak melihat Ayah dimanapun. Dan aku juga tidak ada fikiran untuk menanya keberadaan ayah kepada adik-adik suami.

Jumat, November 30

Resep Rainbow Cake Kukus

Bahan Rainbow Cake : 200 gram tepung terigu 300 gram gula pasir 8 butir telur 300 ml minyak goreng 1/2 sdt vanili bubuk 1/2 sdt garam 1 sdt emulsifier Pewarna makanan (merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu) Cara Membuat Rainbow Cake : Menggunakan Mixer, Kocok 8 butir telur dan 300 gram gula pasir hingga tercampur rata dan halus. Lalu masukkan 1 sdt emulsifier, 1/2 sdt teh vanili bubuk dan 1/2 sdt garam. Kocok semua campuran hingga mengembang, setelah itu matikan mixer. Ambil sedikit adonan diatas lalu letakkan pada mangkuk kecil, campur dengan minyak goreng, aduk-aduk hingga tercampur rata, sisihkan. Masukkan 200 gram tepung terigu sedikit demi sedikit, aduk hingga tercampur rata. Masukkan campuran adonan yang telah diberi minyak, dan aduk hingga rata. Bagi adonan menjadi 6 bagian pada wadah yang berbeda, masing-masing bagian adonan beri pewarna makanan. Gunakan loyang ukuran 24 x 12 cm (atau sesuai keinginan), lapisi dengan kertas roti, beri olesan mentega tipis, baru tuang adonan ke dalamnya. Kukus adonan loyang selama 20 menit, angkat, dinginkan. Beri alas berupa kertas roti atau plastik lebar pada bagian bawah meja atau tempat yang Anda pakai untuk menyusun setiap adonan. Susun adonan dengan warna yang di inginkan sesuai selera. Beri olesan buttercream tipis pada setiap lapisannya. Bila sudah tersusun lalu tutupi semua bagian bolu dengan sisa buttercream. Untuk lebih menarik bisa diberi hiasan sesuka hati, misalnya ditambahkan strawberry diatasnya. Rainbow Cake Sudah Jadi dan siap di hidangkan dengan tampilan menarik dan rasanya pasti enak dan lezat pastinya. Buttercream Rainbow Cake : Bahan Buttercream : 9 butir telur, diambil putihnya saja 350 gram gula pasir 500 gram butter/mentega tanpa garam 2 sdt ekstrak lemon/air lemon segar Cara Membuat Buttercream : Masak 9 putih telur dan 350 gram gula dalam panci kecil menggunakan api sedang. Kocok terus hingga gula mencair. Setelah gula mencair, pindahkan ke mangkuk lalu di mixer dengan kecepatan tinggi, hingga adonan menjadi dingin. Turunkan kecepatan mixer hingga sedang, masukkan mentega sedikit demi sedikit. Mixer terus hingga adonan tercampur rata, kira-kira 5 menit. Tahap Terakhir, tambahkan ekstrak lemon, masih menggunakan mixer aduk hingga tercampur rata. Matikan mixer, buttercream siap digunakan untuk Rainbow Cake.

Bismillah

Assalamuallaikum wr.wb Jujur aja ini sebenarnya blog lama yang aku hapus semua isinya. Pengen aja memulai sesuatu yang baru tanpa menoleh lagi dengan kejadian di belakang yang penuh dengan warna tentunya. Alasanku menghapus semua tulisan itu mudah aja, karena aku udah menemukan tambatan hatiku yang kini menjadi suamiku dan telah dihadiahkan oleh Allah seorang anak yang tampan, lucu dan pintar. Lengkap sudah hidupku.... Titik. Ga ada alasan lain. Oh y aku ingin menceritakan sedikit awal mula perkenalan dengan suamiku dan memulai semua cerita indah kami dengan lengkapnya kehadiran anak ditengah kami. Aku mengenal dia melalui temanku yang kebetulan sepupunya, Ai. Awalnya sih iseng aja nanya sama Ai dan ibunya. Ternyata perkenalan itu terjadi juga. Singkat cerita hanya 4 bulan perkenalan, kami memutuskan untuk menikah tanggal 28 Juni 2009. Setelah menikah, seminggu kemudian aku mengikuti suami pindah ke Lubuk Sikaping. Disana suami bekerja sebagai fotografer disalah satu studio foto. Hidup mandiri aku jalani bersama suami. Dari sanalah aku bisa mengatur semua urusan rumah tangga. Alhamdulillah aku hamil setelah 2 bulan pernikahan. Bahagia sekali waktu itu, namun karena terlalu bahagia, hasil USG yang semestinya ingin diperlihatkan kepada orang tua kami gagal, karena abang melamninating hasil USG tersebut. Ternyata hitam semua gambar yang ada dilembaran tersebut. Antara mau nangis tapi lucu, aku dan abang hanya tertawa melihat hasil USg tersebut. Kenapa tidak terpikirkan oleh kami plastik seperti itu tidak bisa dilaminating. Ha ha ha... Tapi orang tua kami bahagia mendengar kabar ini walau tidak bisa melhat hasil USG. Calon bayi ini akan aku jaga sampai ia lahir dengan selamat kedunia. Aamiin Wassalamuallaikum wr wb