Rabu, Desember 12

Amak ....i miss u s much (Part 1)

Kenapa aku tulis judul ini, karena peristiwa ini sungguh menyakitkan ditengah awal pernikahanku dan kenyataan bahwa aku hamil sangat diharapkan amak. Amak adalah ibu mertuaku. Walau baru sebentar mengenal beliau, aku bahagia pernah bersama beliau yang kusayang. Ibu dari suamiku. Dan nenek dari anakku nanti. Masih ingat dalam benakku, peristiwa itu dimulai tanggal 30 September 2012. Sekitar pukul 17.15 gempa kuat terjadi di Padang. Waktu itu aku dan suami berada di rumah, Lubuk Sikaping. Guncangan begitu keras, sehingga kami yang waktu itu menerima tamu langsung keluar rumah. Kakiku lemas sekali, sehingga aku langsung duduk ditanah. Kami sibuk menerka dimana pusat gempa ini terjadi. Lampu langsung mati, sehingga kami tidak bisa melihat berita di televisi. Sinyal HP pun hilang. Aku dan suami mencari wartel terdekat, tapi nihil karena wartel disana tutup semua akibat gempa. Setengah jam kemudian, kami mendengar kabar dari tetangga bahwa anaknya yang kuliah di UNP tertimpa reruntuhan gedung. Panik kurasakan karena keluarga besarku berada di PAdang. Dari tetanggaku itulah diketahui bahwa kerusakan di Padang parah. Banyak korban jiwa. Ya Allah, aku mohon lindungilah semua anggota keluargaku disana. Aku sibuk menelepon dan sms ibu/adikku. Tapi sinyal HP yang hilang menghambat pesan itu sampai. Begitu juga dengan suami, sibuk menghubungi keluarga yang di Maninjau. Sewaktu menelepon adik suami yang di Maninjau ternyata bisa. Dari sana kami dapat kabar bahwa rumah orang tua suami sudah rusak. Ya Allah... tambah kacau pikiran ini. Aku takut membayangkan kejadiannya bisa separah ini. Aku juga belum bisa menghubungi keluargaku yang di Padang. Ternyata pusat gempa di Padang. Aku tidak bisa memastikan berapa kekuatan gempa itu, karena kabar masih simpang siur kami dengar. Akhirnya aku dan suami sepakat berangkat ke Maninjau besok subuh. Dengan kandungan yang masih muda, aku kuatkan diriku untuk berangkat naik motor dengan suamiku. Karena kami tahu, jika mengggunakan travel hanya akan memperlambat kamin tiba ditujuan. Macet dijalan pasti terjadi karena semua orang menuju ke Padang untuk mencari tahu kabar sanak saudaranya. Begitu juga dengan aku dan suami yang akan langsung kepadang sesudah kami dari maninjau nantinya. Aku terus berdoa agar Allah menguatkan janin yang ada dikandunganku selama diperjalanan saat itu. Setibanya kami di Maninjau, mataku langsung tertuju kedapur yang sudah rata dengan tanah. Anehnya hanya dapur yang runtuh. Sedangkan rumah orang tua suami hanya miring dengan lantai yang sudah retak-retak karena gempa. Pikiranku langsung tertuju kepada Amak, karena kata adik suami, amak ada di Padang mengikuti seminar yang diadakan di hotel Ambacang. Dan kabarnya hotel itu juga runtuh. DEG!!!!! Amak... Ya Allah. lindungilah beliau. Hanya itu yang kuucapkan terus menerus dalam diamku. Setelah membantu mengeluarkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan di rumah ortu suami, aku dan suami langsung menuju ke Padang saat itu juga!! Anehnya aku tidak menemukan dimana Ayah. Biasanya Ayah akan langsung menghampiri kami jika kami ke Maninjau. Tapi kali ini aku tidak melihat Ayah dimanapun. Dan aku juga tidak ada fikiran untuk menanya keberadaan ayah kepada adik-adik suami.

Tidak ada komentar: